A. Latar Belakang Masalah
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) termasuk mata pelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan kritis siswa dalam menyikapi fenomena alam yang terjadi dalam kehidupan. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam harus dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran karena mata pelajaran IPA berhubungan erat dengan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Bila kita cermati dalam pentas dunia, kemampuan siswa-siswa kita pada penguasaan Ilmu dan teknologi termasuk pada mata pelajaran IPA (sains) sangat membangggakan. Dari setiap even yang diikiuti pada olimpiade sains internasional peserta sains dari Indonesia selalu mendapatkan posisi terbaik. Namun demikian, apakah penomena ini berbandung lurus dengan keadaan kemampuan umum siswa kita pada mata pelajaran sains khususnya dan kompetensi lain pada umumnya. Kenyataan yang ada siswa kita masih rendah dalam penguasan konsep-konsep IPA, nilai hasil belajar siswa pada hasil Ujian Nasional secara umum masih di bawah standar.
Berdasarkan pengamatan selama ini mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dianggap sulit oleh para siswa di sekolah-sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai mahasiswa di perguruan tinggi.
Permasalahan pengajaran IPA yang abstrak dan tidak mengikuti tahapan pembelajaran yang benar sesui dengan karakteristik mata pelajaran IPA oleh guru di Sekolah Dasar merupakan titik awal pembelajaran IPA jadi kurang diminati, membosankan dan cenderung dianggap sulit oleh siswa. Dari data yang ada, terutama di Sekolah Dasar tempat penulis mengabdikan diri, terlihat perolehan nilai IPA siswa masih jauh dari memuaskan. Nilai yang diperoleh siswa rata-rata masih di bawah nilai enam puluh. Apalagi setelah diberlakukannya Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), siswa semakin kesulitan untuk dapat mencapai nilai yang telah dipersyaratkan oleh pihak sekolah.
Proses belajar mengajar di SD Negeri Pandeglang 5 saat ini masih cenderung menggunakan metode tradisional, aktivitas pembelajaran masih didominasi oleh metode ceramah, sehingga hasil belajar siswa secara umum masih rendah. Berdasarkan data, masih banyak siswa kelas V yang belum mampu mencapai nilai yang dipersyaratkan, yaitu nilai 6. Siswa Kelas V SD Negeri Pandeglang 5 dinyatakan telah tuntas belajar Ilmu Pengetahuan Alam apabila siswa mampu mencapai nilai 6.
Melihat kenyataan ini, guru-guru SD Negeri Pandeglang 5 berupaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan mengoptimalkan aktivitas pembelajaran, membuat alat peraga murah, dan mendesain skenario pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar, misalnya dengan menerapkan pendekatan belajar aktif, yaitu sebuah pendekatan pembelajaran yang penulis peroleh pada waktu pelatihan Ilmu Pengetahuan Alam dalam kegiatan KKG.
Untuk memecahkan masalah tersebut, penulis berupaya dengan berbagai cara, salah satunya dengan mencoba menerapkan pendekatan problem solving. Melalui metode ini, penulis berharap aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat dengan signifikan.
Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan kita dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran IPA yang berorientasi target penguasaan materi IPA, seperti menghapal definisi atau pengertian-pengertian terbukti berhasil dalam kompetisi jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan hidup.
Melihat kenyataan ini, penulis beranggapan bahwa penerapan pendekatan problem solving dalam pembelajaran IPA dapat memecahkan permasalahan yang dialami para guru dan siswa pada mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar. Sehingga, sekarang ini penerapan metode eksperimen atau problem solving dalam mata pelajaran IPA menjadi tumpuan harapan para guru dalam upaya menghidupkan aktivitas siswa dalam pembelajaran secara maksimal. Sehingga, Pelajaran IPA tidak lagi dianggap sebagai mata pelajaran yang sama dengan pelajaran sastra yang sarat dengan hapalan-hapalan.
Ada beberapa alasan mengapa pendekatan problem solving dikembangkan sekarang ini, diantaranya: (1) melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan. Misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi, (2) mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan serta mencoba-coba, (3) mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, dan (4) mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan.
Dengan pemecahan masalah atau problem solving diharapkan pembelajaran akan lebih bermakna, menarik dan memuncukan kreativitas bagi siswa karena pendekatan pemecahan masalah dapat dikatakan sebagai muara dalam belajar IPA, sebab berbagai aspek (kognitif, afektif, dan psikomotor) terlibat di dalamnya. Misalnya, jika kita sedang menghadapi permasalahan dengan meneliti fenomena alam, maka siswa akan berupaya untuk mencari penyebab mengapa hal itu bisa terjadi dengan menggunakan metode ilmiah yang dipahaminya. Di pihak lain kita dituntut untuk menerima permasalahan sebagai suatu tantangan yang harus dicarikan solusinya, dan akhirnya kita harus mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pemecahan masalah dalam bentuk perbuatan nyata.
Strategi pembelajaran dalam bidang studi IPA dengan menggunakan metode eksperimen lebih mementingkan proses daripada hasil belajar. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjangnya. Dalam konteks ini siswa harus mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana cara mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari akan sangat berguna bagi kehidupannya nanti. Dengan begitu mereka akan memposisikan sebagai dirinya sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya untuk mencapainya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing bukan sekedar sebagai pengajar atau pentransfer ilmu pengetahuan belaka.
Berdasarkan permasalahan di atas, perlu dilakukan penelitian terhadap upaya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada konsep fotosintesis dengan menggunakan metode problem solving. Oleh karena itu, penulis menetapkan judul penelitian “Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Pendekatan Problem Solving Siswa dalam Pembelajaran IPA pada Konsep Fotosintesis di Kelas V SD Negeri Pandeglang 5”.
B. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dalam penelitian ini, di antaranya :
1) Apakah metode ekaperimen sesuai untuk digunakan pada mata pelajaran IPA dalam konsep fotosintesis?.
2) Bagaimanakan cara menerapkan metode eksperiman pada konsep fotosintesis dalam mata pelajaran IPA?.
3) Apakah penerapan metode eksperimen pada mata pelajaran IPA dalam konsep fotosintesis dapat meningkatkan aktivitas siswa?.
4) Apakah metode eksperimen sesuai digunakan dalam konsep fotosintesis pada mata pelajaran IPA dibanding dengan metode yang lain ?.
5) Apakah penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran IPA pada konsep fotosintesis?.
6) Bagaimanakah hasil belajar siswa pada konsep fotosintesis dalam mata pelajaran IPA dengan menggunakan metode eksperimen?.
7) Bagaimanakah kesesuaian metode ekserimen pada konsep fotosintesis dalam mata pelajaran IPA?.
8) Apakah terdapat peningkatan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran konsep fotosintesis dalam mata pelajaran IPA dengan penggunaan metode problem solving?.
9) Apakah terdapat peningkatan hasil belajar siswa siswa pada pembelajaran konsep fotosintesis dalam mata pelajaran IPA dengan penggunaan metode problem solving?.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan maslah-masal yang terdapat pada identifikasi masalah, maka perlu kiranya ada pembatasan masalah. Adapaun pembatasan masalah dalam penelitian ini, antara lain :
1) Penerapan metode eksperimen pada mata pelajaran IPA dalam konsep fotosintesis dapat meningkatkan aktivitas siswa.
2) Penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA pada konsep fotosintesis.
C. Rumusan Masalah
Masalah yang dijadikan fokus penelitian harus dirumuskan secara jelas dan operasional, sehingga nampak jelas ruang lingkupnya. Rumusan masalah dalam penelitian ini penulis rumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1) Apakah penerapan metode eksperimen pada mata pelajaran IPA dalam konsep fotosintesis dapat meningkatkan aktivitas siswa?
2) Apakah penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA pada konsep fotosintesis
D. Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan penelitian yang dilakukan tentu mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Demikian pula dengan penelitian ini. Tujuan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui bahwa metode eksperimen pada pembelajaran IPA dalam konsep fotosintesis dapat meningkatkan aktivitas siswa;
2) Untuk mengetahui penerapan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA konsep fotosintesis dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
E. Manfaat Penelitian
Segala sesuatu kegiatan yang dilakukan tentu mempunyai manfaat yang dapat diambil. Demikian pula dengan penelitian ini. Manfaat bermanfaat bagi peneliti, siswa, guru dan lembaga.
1) Manfaat bagi peneliti, hasil penelitian ini menambah wawasan dan disiplin ilmu pada umumnya dan penerapan pendekatan problem solving pada pembelajaran IPA khususnya;
2) Manfaat bagi siswa, hasil penelitian ini memudahkan siswa dalam menerima materi pelajaran;
3) Manfaat bagi guru untuk menambah wawasan dan disiplin ilmu terutama dalam merancang dan memilih pendekatan pembelajaran yang dapat mengotimalkan potensi, kompetensi dan kreativitas yang dimiliki siswa;
4) Sebagai bahan masukan yang positif dalam pembinaan profesi guru dengan mempertimbangkan tingkat kreativitas guru dalam merancang sistem pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Pembelajaran IPA di SD
Kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus merupakan pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat sekolah. Kurikulum mendasarkan dan mencerminkan falsafah sebagai pandangan hidup suatu bangsa. Kearah mana dan bagaimana bentuk kehidupan bangsa itu kelak, banyak ditentukan dan digambarkan dalam kurikulum sekarang, mulai dari kurikulum taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah lanjutan, sampai perguruan tinggi. Sering terjadi suatu negara mengalami perubahan pemerintahan, politik pemerintah itupun mempengaruhi pula bidang pendidikan yang sering membawa akibat terjadinya perubahan kurikulum.
Dalam perjalanannya kurikulum yang digunakan di negara kita telah menerapkan enam kurikulum, yaitu kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (belum sempat disyahkan pemerintah walaupun sempat berlaku di beberapa sekolah proyek percontohan), dan terakhir Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dikeluarkan pemerintah melalui Permendiknas Nomor 22 tentang Standar Isi dan Permendiknas Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Permendiknas Nomor 24 tentang Pelaksanaan kedua Permen tersebut.
Kurikulum senantiasa bersifat dinamis guna lebih menyesuaikan dengan berbagai perkembangan tersebut dan lebih memantapkan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Itu sebabnya pula kurikulum selalu diadakan perbaikan. Namun, perbaikan kurikulum tidak selamanya menghasilkan sesuatu yang baik karena kurikulum bersifat hipotesis. Sekalipun demikian, diperlukan usaha-usaha untuk terus memperbaikinya agar terdapat alat yang dianggap ampuh untuk mendekati atau mencapai sasaran tersebut.
Perubahan kurikulum tersebut juga termasuk di dalamnya perubahan kurikulum IPA untuk tingkat Sekolah Dasar. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan revisi dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang tidak sempat disyahkan pemerintah.
B. Pendekatan Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Di dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya disebut metode mengajar.
Dalam kenyataan, cara atau metode mengajar atau teknik penyajian yang digunakan guru untuk menyampaikan informasi atau massage lisan kepada siswa berbeda dengan cara yang ditempuh untuk memantapkan siswa dalam menguasai pengetahuan, keterampilan serta sikap. Metode yang digunakan untuk memotivasi siswa agar mampu menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan masalah yang dihadapi ataupun untuk menjawab suatu pertanyaan akan berbeda dengan metode yang digunakan untuk tujuan agar siswa mampu berpikir dan mengemukakan pendapatnya sendiri di dalam menghadapi segala persoalan.
Metode pemecahan masalah digunakan dalam pembelajaran yang membutuhkan jawaban atau pemecahan masalah. Sebagai metode mengajar, metode pemecahan masalah sangat baik bagi pembinaan sikap ilmiah pada siswa. Dengan metode ini, para siswa belajar memecahkan suatu masalah menurut prosedur kerja ilmiah.
1. Pengertian Metode Pemecahan Masalah
Sebenarnya dengan mempelajari metode eksperimen, kita sudah dapat memahami apa yang dimaksud dengan metode pemecahan masalah atau problem solving, karena langkah-langkah atau prosedur kerja kedua metode tersebut sama (Depdikbud, 1997 : 23).
Sedangkan menurut Nahrowi Adjie dan Maulana, (2006 : 37) pembelajaran pemecahan masalah IPA dapat dikatakan sebagai muara dalam belajar IPA, sebab berbagai aspek (kognitif, afektif, dan psikomotor) terlibat di dalamnya.
Metode pemecahan masalah menurut Sudirman, dkk. (1991 : 146) adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa.
Metode pemecahan masalah ini sering dinamakan atau disebut juga dengan problem solving method, reflective thinking method, atau scientific method (Sudirman, dkk., 1991 : 146).
Dengan demikian, metode pemecahan masalah adalah sebuah metode pembelajaran yang berupaya membahas permasalahan untuk mencari pemecahan atau jawabannya. Sebagaimana metode mengajar, metode pemecahan masalah sangat baik bagi pembinaan sikap ilmiah pada para siswa. Dengan metode ini, siswa belajar memecahkan suatu masalah menurut prosedur kerja metode ilmiah.
2. Langkah-langkah Metode Pemecahan Masalah
Dalam garis besarnya langkah-langkah metode pemecahan masalah dapat disarikan sebagai berikut:
a. Adanya masalah yang dipandang penting;
b. Merumuskan masalah;
c. Analisa hipotesa;
d. Mengumpulkan data;
e. Analisa data;
f. Mengambil kesimpulan
g. Aplikasi (penerapan) dari kesimpulan yang diperoleh; dan
h. Menilai kembali seluruh proses pemecahan masalah (Depdikbud, 1997: 23).
Dengan cara tersebut diharapkan anak-anak didik untuk berpikir dan bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah. Metode ini lebih tepat digunakan di kelas tinggi; kelas IV-VI Sekolah Dasar (Depdikbud, 1997 : 23).
Sedangkan menurut Nahrowi Adjie dan Maulana (2006 : 46-51) langkah-langkah penyelesaian masalah antara lain adalah; (1) memahami soal, (2) memilih pendekatan atau strategi, (3) menyelesaikan model, dan (4) menafsirkan solusi.
Pada prinsipnya kedua langkah penyelesaian masalah di atas adalah sama, hanya saja pendapat yang kedua lebih singkat dan padat. Berkaitan dengan masalah penelitian ini penulis lebih cenderung menggunakan langkah-langkah penyelesaian masalah matematika yang dikemukakan oleh Nahrowi Adjie dan Maulana, karena lebih sederhana dan mudah dipahami.
3. Teknik Pembelajaran Pemecahan Masalah IPA
Salah satu tugas guru dalam proses pembelajaran adalah memilih metode dan teknik pembelajaran, di samping menentukan tujuan, mendalami materi, memilih alat/media, dan menentukan alat evaluasi. Keterampilan guru dalam menentukan teknik pembelajaran yang tepat akan sangat menentukan terhadap tingkat keberhasilan pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus profesional dalam menentukan teknik pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik konsep pembelajaran.
C. Aktivitas Belajar
Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar. “ Teaching is the guidance of learning activities, teaching is for purfose of aiding the pupil learn,” demikian pendapat William Burton.
Dengan demikian, aktivitas sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga muridlah yang seharusnya terlibat aktif, sebab murid sebagai subjek didik adalah yang merencanakan, dania sendiri yang melaksanakan belajar mengajar (Usman, 1995: 21).
Aktivitas memiliki pengertian sebagai kegiatan yang dilakukan seseorang. Aktivitas berasal dari bahasa Inggris Activity diartikan sebagai kegiatan. Sedangkan dalama Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktivitas adalah kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan (Depdikbud, 1989: 17).
Pada kenyataan di sekolah-sekolah sering guru yang aktif sehingga murid tidak diberi kesempatan untulk aktif. Betapa pentingnya aktivitas murid dalam proses belajar mengajar sehingga John Dewey, sebagai tokoh pendidikan, mengemukakan prinsip ini melalui metode proyeknya dengan semboyan learning by doing. Bahkan jauh sebelumnya para tokoh pendidikan lainnya seperti Rousseau, Pestalozi, Frobel, dan Montessory telah mendukung prinsip aktivitas dalam pengajaran ini.
Menurut Usman (1995: 22) aktivitas belajar murid yang dimaksud disini adalah aktivitas jasmaniah maupun aktivitas mental. Aktivitas belajar murid dapat digolongkan ke dalam beberapa hal.
(1) Aktivitas visual (visual activities) seperti membaca, menulis, melakukan eksperimen, dan demontrasi;
(2) Aktivitas lisan (oral activities) seperti bercerita, membaca sajak, tanya jawab, diskusi dan menyanyi;
(3) Aktivitas mendengarkan (listening activities) seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan;
(4) Aktivitas gerak (motor activities) seperti senam, atletik, menari, melukis; dan
(5) Aktivitas menulis (writing activities) seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat.
Setiap jenis aktivitas tersebut di atas memiliki kadar atau bobot yang berbeda bergantung pada segi tujuan mana ayang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Yang jelas, aktivitas kegiatan belajar murid hendaknya memiliki kadar atau bobot yang lebih tinggi.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar mertupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai perubahan tingkah laku. Aktivitas belajar siswa merupakan kegiatan yang sangat penting dalam belajar karena tanpa aktivitas belajar tidak mungkin pembealajaran yang dilaksanakan dapat berlangsung dengan baik.
D. Hasil Belajar
Menurut Usman, (2001: 5) “Belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya”. Dalam pengertian ini ada kata perubahan yang berarti bahwa seseorang telah mengalami proses belajar, ia akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan. Oleh karena itu, kriteria keberhasilan belajar di antaranya ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar.
Menurut Hamalik (2001: 30) “Tingkah laku manusia terdiri dari sejumlah aspek. Hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada setiap aspek-aspek tersebut. Adapun aspek-aspek itu adalah pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap.
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan baik tujuan kurikuler mapun instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar yang dikembangkan Benyamin S. Bloom. Secara garis besar Bloom membagi hasil belajar dalam tiga ranah atau takson yakin; ranah kognitif, afektif dan psikomotor, sehingga kemudian tiga ranah ini disebut Taksonomi Bloom.
E. Fotosintesis
Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan oleh tubuhan berhijau daun dan beberapa jenis bakteri yang menghasilkan makanan dengan memanfaatkan sinar matahari. Dapat kita bayangkan apabila tumbuhan hijau tidak mampu melakukan fotosintesis, bumi dan segala isinya akan mati, karena semua mahluk di permukaan bumi sangat bergantung pada energi yang dihasilkan dari proses fotosintesis. Demikian pula oksigen yang kita hirup merupakan hasil dari proses biokimia tumbuhan yang dilakukan melalui fotosintesis.
Widayanti, (2004: 16) mengungkapkan bahwa organisme yang menghasilkan energi melalui fotosintesis disebut organisme fototrof. Tumbuhan bersifat autotrof artinya dapat mengsintesis makanan langsung dari senyawa anorganik. Tumbuhan menggunakan karbondioksida dan air untuk menghasilkan gula dan oksigen yang diperlukan sebagai makanannya.
Fotosintesis adalah suatu proses pembentukan bahan organik dari bahan anorganik (CO2,H2O, H2S) dengan bantuan sinar matahari dan klorofil.
Persamaan reaksi kimianya dapat ditulis:
nCO2+nH2O cahaya (CH20)n + nO2 (Sasmitamihardja, 1996: 254)
Glukosa dapat digunakan untuk membentuk senyawa organik lain seperti selulosa dan dapat pula digunakan untuk bahan bakar. Proses ini berlangsung melalui resiper seluler yang terjadi baik pada hewan maupun tumbuhan. Secara umum reaksi yang terjadi pada respirasi seluler berkebalikan dengan persamaan itu. Pada respirasi, gula (glukosa) dan senyawa lain akan berekasi dengan oksigen untuk menghasilkan karbondioksida, air dan energi kimia (Widayanti, 2004: 17). Menurut Pratiwi, (2000: 49) oksigen yang dihasilkan dalam kloroplas dapat digunakan mitokondria selama proses pembongkaran glukosa. Sejalan dengan itu, karbondioksida dan air yang diproduksi dalam mitokondria dapat digunakan kloroplas sebagai bahan dasar fotosintesis.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar mertupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai perubahan tingkah laku. Aktivitas belajar siswa merupakan kegiatan yang sangat penting dalam belajar karena tanpa aktivitas belajar tidak mungkin pembealajaran yang dilaksanakan dapat berlangsung dengan baik.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Objek Tindakan
Yang menjadi objek tindakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri pandeglang 5 Kecamatan Pandeglang Kabupaten Pandeglang berjumlah 30 orang siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki 16 siswa perempuan.
B. Subyek dan Lokasi penelitian
Subyek utama dalam penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran fotosintesis dengan menggunakan metode pemecahan masalah kelas V SD Negeri Pandeglang 5 Kecamatan Pandeglang Kabupaten Pandeglang.
Kegiatan penelitian dilaksanakan di SD Negeri Pandeglang 5 pada jadwal pelajaran IPA dengan konsep fotosintesis, yang menjadi pertimbangan peneliti menetapkan SD Negeri Pandeglang 5 sebagai lokasi atau tempat penelitian adalah letaknya yang strategis, dan hanya berjarak 100 meter dari pusat pemerintahan Kabupaten Pandeglang serta berada di tengah kota sekaligus sebagai tempat mengajar peneliti serta izin dan penerimaan yang terbuka dari seluruh guru dan kepala sekolah.
C. Metode Pengumpulan Data
Penelitian pada hakekatnya merupakan pembuktian dari hipotesis, dalam pelaksanaannya untuk mencapai tujuan diperlukan metode yang tepat. Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penulis memilih metode ini karena dalam pelaksanaannya membutuhkan tindakan yang komprehensip terhadap seluruh unsur yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga diperoleh sesuatu hasil atau solusi berupa pemecahan masalah. Hasil itulah yang akan menegaskan bagaimana hubungan kausal antara siklus-siklus yang di selidiki.
John Elliot mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan lingkungan yang diperlukan (Jhon Eliot dalam Depdiknas, 2003 : 7).
Kemmis dan Mac Taggart (dalam Depdiknas, 2003 : 7), mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut.
Dalam upaya memperoleh fakta riil tentang pendekatan pembelajaran pemecahan masalah dalam penelitian ini, penulis menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas yang dikembangkan oleh Stephen Kemmis dan MacTaggart. Model yang dikembangkan oleh kedua ahli ini mengembangkan empat komponen Penelitian Tindakan Kelas yang meliputi; (1) perencanaan (planning); (2) aksi/tindakan (acting); (3) observasi (observing); dan (5) refleksi (reflecting).
Model Penelitian Tindakan Kelas yang dikembangkan Kemmis dan McTaggart, ada beberapa kegiatan atau langkah yang dilakukan sesudah suatu siklus selesai diimplementasikan, khususnya sesudah adanya refleksi, kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang (replanning) atau revisi terhadap implementasi siklus sebelumnya. Selanjutnya, berdasarkan perencanaan ulang (replanning) tersebut dilaksanakan dalam siklus tersendiri. Demikian untuk seterusnya, satu siklus diikuti dengan siklus berikutnya, sehingga Penelitian Tindakan Kelas yang dikembangkan Kemmis dan McTaggart dapat dilakukan dengan beberapa kali siklus. Pada kegiatan refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan dari berbagai criteria. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti bersama-sama guru melakukan revisi atau perbaikan terhadap rencana awal.
D. Metode Analisis Data
Dalam mengumpulkan dan mengolah data, penulis menggunakan berbagai teknik penelitian untuk mendapatkan atau menjaring data penelitian. Teknik penelitian yang digunakan adalah telaah pustaka, observasi, dan teknik pemecahan masalahan atau problem solving.
Pelaksanaan penelitian, diawali dengan mengidentifikasi permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran fotosintesis dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah. Kegiatan ini dilaksanakan pada setiap tahap siklus, untuk selanjutnya permasalahan tersebut diidentifikasi dengan menggunakan tindakan berdasarkan langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart. Penulis beranggapan model ini mudah dipahami dan langkah-langkah kegiatannya jelas. Langkah-langkah kegiatan yang penulis rancang sesuai dengan siklus tindakan perbaikan yang dikembangkan Kemmis dan McTaggart, adalah sebagai berikut:
1. Siklus I
Berdasarkan hasil diskusi pada tahap refleksi dalam kegiatan pra siklus, disepakati untuk menyusun sebuah perencanaan kegiatan, sebagai berikut:
a) Perencanaan
1) Membuat RPP tentang pembelajaran fotosintesis;
2) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam proses pembelajaran fotosintesis ;
3) Guru merencanakan penggunaan metode pemecahan masalah dalam pembelajaran fotosintesis dan siswa harus terlibat secara aktif selama proses pembelajaran berlangsung;
4) Peneliti membuat daftar pertanyaan untuk wawancara dengan guru kelas V SD Negeri Pandeglang 5, dalam hal ini bertindak sebagai responden;
5) Peneliti dan guru kelas V membuat daftar analisis portofolio hasil belajar IPA yang didokumentasikan dalam bentuk portofolio.
6) Peneliti mempersiapkan pedoman observasi untuk guru dan siswa; dan
7) Memeriksa hasil evaluasi siswa pada pembelajaran yang baru diobservasi.
b) Tindakan
Pada tahap ini guru, mulai melakukan tindakan yang telah direncanakan pada tahap perencanaan.
1) Guru melaksanakan pembelajaran matematika di kelas V SD Negeri Pandeglang 5 pada konsep fotosintesis dengan menggunakan metode pemecahan masalah;
2) Penulis mengamati secara cermat aktivitas guru dan siswa dengan menggunkan pedoman observasi; dan
3) Peneliti mengidentifikasi aktifitas pembelajaran dan mencatat dengan cermat setiap poin yang terlihat sesuai dengan data yang muncul dalam pembelajaran;
4) Peneliti dan guru memeriksa hasil belajar siswa setelah pembelajaran berakhir.
c) Observasi
Pada tahap ini peneliti mengamati proses pembelajaran IPA yang berlangsung di kelas dengan menggunakan pedoman observasi. Aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran diamati secara cermat, termsuk kelemahan dan kekurangan yang muncul ketika guru melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode pemecahan masalah. Data tentang kekurangan dan kelemahan guru dalam kegiatan pembelajaran pada siklus I, dijadikan acuan pertimbangan bahan refleksi dan perbaikan pada kegiatan siklus berikutnya.
d) Refleksi
Pada kegiatan refleksi, peneliti bersama guru berdiskusi kembali tentang hasil yang diperoleh pada tahap observasi, kemudian berupaya dengan cermat mengkaji aktivitas pembelajaran yang tidak sesuai dan masih terdapat kekurangan atau kelemahan untuk diperbaiki pada langkah selanjutnya dalam siklus kedua.
1.1 Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan tindakan biasanya ditetapkan berdasarkan suatu ukuran standar yang berlaku. Misalnya, pencapaian penguasaan kompetensi sebesar 75% ditetapkan sebagai ambang batas ketuntasan belajar pada saat dilaksanakan tes awal, nilai peserta didik berkisar pada angka 60), maka pencapaian hasil yang belum sampai 70-75% diartikan perlu dilakukan tindakan lagi atau siklus berikutnya (Uzher, 1993). Berdasarkan nilai KKM kelas yaitu 6,2, maka indikator keberhasilan untuk siklus I adalah 35-70%.
2. Siklus II
Siklus kedua dilakukan sebagai upaya perbaikan pada tindakan hasil observasi pada siklus pertama. Siklus kedua penulis susun dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Perencanaan
Peneliti merencanakan suatu tindakan yang dapat memperbaiki serta mengatasi kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I sehingga diperoleh hasil yang lebih baik sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan.
1) Peneliti menyusun pedoman observasi untuk guru dan siswa;
2) Peneliti dan guru menyusun dan merevisi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pada konsep fotosintesis;
3) Guru dibantu peneliti, mempersiapkan alat peraga dan sarana penunjang pembelajaran lainnya yang dibutuhkan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar mertupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai perubahan tingkah laku. Aktivitas belajar siswa merupakan kegiatan yang sangat penting dalam belajar karena tanpa aktivitas belajar tidak mungkin pembealajaran yang dilaksanakan dapat berlangsung dengan baik.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Objek Tindakan
Yang menjadi objek tindakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri pandeglang 5 Kecamatan Pandeglang Kabupaten Pandeglang berjumlah 30 orang siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki 16 siswa perempuan.
B. Subyek dan Lokasi penelitian
Subyek utama dalam penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran fotosintesis dengan menggunakan metode pemecahan masalah kelas V SD Negeri Pandeglang 5 Kecamatan Pandeglang Kabupaten Pandeglang.
Kegiatan penelitian dilaksanakan di SD Negeri Pandeglang 5 pada jadwal pelajaran IPA dengan konsep fotosintesis, yang menjadi pertimbangan peneliti menetapkan SD Negeri Pandeglang 5 sebagai lokasi atau tempat penelitian adalah letaknya yang strategis, dan hanya berjarak 100 meter dari pusat pemerintahan Kabupaten Pandeglang serta berada di tengah kota sekaligus sebagai tempat mengajar peneliti serta izin dan penerimaan yang terbuka dari seluruh guru dan kepala sekolah.
C. Metode Pengumpulan Data
Penelitian pada hakekatnya merupakan pembuktian dari hipotesis, dalam pelaksanaannya untuk mencapai tujuan diperlukan metode yang tepat. Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penulis memilih metode ini karena dalam pelaksanaannya membutuhkan tindakan yang komprehensip terhadap seluruh unsur yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga diperoleh sesuatu hasil atau solusi berupa pemecahan masalah. Hasil itulah yang akan menegaskan bagaimana hubungan kausal antara siklus-siklus yang di selidiki.
John Elliot mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan lingkungan yang diperlukan (Jhon Eliot dalam Depdiknas, 2003 : 7).
Kemmis dan Mac Taggart (dalam Depdiknas, 2003 : 7), mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut.
Dalam upaya memperoleh fakta riil tentang pendekatan pembelajaran pemecahan masalah dalam penelitian ini, penulis menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas yang dikembangkan oleh Stephen Kemmis dan MacTaggart. Model yang dikembangkan oleh kedua ahli ini mengembangkan empat komponen Penelitian Tindakan Kelas yang meliputi; (1) perencanaan (planning); (2) aksi/tindakan (acting); (3) observasi (observing); dan (5) refleksi (reflecting).
Model Penelitian Tindakan Kelas yang dikembangkan Kemmis dan McTaggart, ada beberapa kegiatan atau langkah yang dilakukan sesudah suatu siklus selesai diimplementasikan, khususnya sesudah adanya refleksi, kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang (replanning) atau revisi terhadap implementasi siklus sebelumnya. Selanjutnya, berdasarkan perencanaan ulang (replanning) tersebut dilaksanakan dalam siklus tersendiri. Demikian untuk seterusnya, satu siklus diikuti dengan siklus berikutnya, sehingga Penelitian Tindakan Kelas yang dikembangkan Kemmis dan McTaggart dapat dilakukan dengan beberapa kali siklus. Pada kegiatan refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan dari berbagai criteria. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti bersama-sama guru melakukan revisi atau perbaikan terhadap rencana awal.
D. Metode Analisis Data
Dalam mengumpulkan dan mengolah data, penulis menggunakan berbagai teknik penelitian untuk mendapatkan atau menjaring data penelitian. Teknik penelitian yang digunakan adalah telaah pustaka, observasi, dan teknik pemecahan masalahan atau problem solving.
Pelaksanaan penelitian, diawali dengan mengidentifikasi permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran fotosintesis dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah. Kegiatan ini dilaksanakan pada setiap tahap siklus, untuk selanjutnya permasalahan tersebut diidentifikasi dengan menggunakan tindakan berdasarkan langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart. Penulis beranggapan model ini mudah dipahami dan langkah-langkah kegiatannya jelas. Langkah-langkah kegiatan yang penulis rancang sesuai dengan siklus tindakan perbaikan yang dikembangkan Kemmis dan McTaggart, adalah sebagai berikut:
1. Siklus I
Berdasarkan hasil diskusi pada tahap refleksi dalam kegiatan pra siklus, disepakati untuk menyusun sebuah perencanaan kegiatan, sebagai berikut:
a) Perencanaan
1) Membuat RPP tentang pembelajaran fotosintesis;
2) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam proses pembelajaran fotosintesis ;
3) Guru merencanakan penggunaan metode pemecahan masalah dalam pembelajaran fotosintesis dan siswa harus terlibat secara aktif selama proses pembelajaran berlangsung;
4) Peneliti membuat daftar pertanyaan untuk wawancara dengan guru kelas V SD Negeri Pandeglang 5, dalam hal ini bertindak sebagai responden;
5) Peneliti dan guru kelas V membuat daftar analisis portofolio hasil belajar IPA yang didokumentasikan dalam bentuk portofolio.
6) Peneliti mempersiapkan pedoman observasi untuk guru dan siswa; dan
7) Memeriksa hasil evaluasi siswa pada pembelajaran yang baru diobservasi.
b) Tindakan
Pada tahap ini guru, mulai melakukan tindakan yang telah direncanakan pada tahap perencanaan.
1) Guru melaksanakan pembelajaran matematika di kelas V SD Negeri Pandeglang 5 pada konsep fotosintesis dengan menggunakan metode pemecahan masalah;
2) Penulis mengamati secara cermat aktivitas guru dan siswa dengan menggunkan pedoman observasi; dan
3) Peneliti mengidentifikasi aktifitas pembelajaran dan mencatat dengan cermat setiap poin yang terlihat sesuai dengan data yang muncul dalam pembelajaran;
4) Peneliti dan guru memeriksa hasil belajar siswa setelah pembelajaran berakhir.
c) Observasi
Pada tahap ini peneliti mengamati proses pembelajaran IPA yang berlangsung di kelas dengan menggunakan pedoman observasi. Aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran diamati secara cermat, termsuk kelemahan dan kekurangan yang muncul ketika guru melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode pemecahan masalah. Data tentang kekurangan dan kelemahan guru dalam kegiatan pembelajaran pada siklus I, dijadikan acuan pertimbangan bahan refleksi dan perbaikan pada kegiatan siklus berikutnya.
d) Refleksi
Pada kegiatan refleksi, peneliti bersama guru berdiskusi kembali tentang hasil yang diperoleh pada tahap observasi, kemudian berupaya dengan cermat mengkaji aktivitas pembelajaran yang tidak sesuai dan masih terdapat kekurangan atau kelemahan untuk diperbaiki pada langkah selanjutnya dalam siklus kedua.
1.1 Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan tindakan biasanya ditetapkan berdasarkan suatu ukuran standar yang berlaku. Misalnya, pencapaian penguasaan kompetensi sebesar 75% ditetapkan sebagai ambang batas ketuntasan belajar pada saat dilaksanakan tes awal, nilai peserta didik berkisar pada angka 60), maka pencapaian hasil yang belum sampai 70-75% diartikan perlu dilakukan tindakan lagi atau siklus berikutnya (Uzher, 1993). Berdasarkan nilai KKM kelas yaitu 6,2, maka indikator keberhasilan untuk siklus I adalah 35-70%.
2. Siklus II
Siklus kedua dilakukan sebagai upaya perbaikan pada tindakan hasil observasi pada siklus pertama. Siklus kedua penulis susun dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Perencanaan
Peneliti merencanakan suatu tindakan yang dapat memperbaiki serta mengatasi kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I sehingga diperoleh hasil yang lebih baik sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan.
1) Peneliti menyusun pedoman observasi untuk guru dan siswa;
2) Peneliti dan guru menyusun dan merevisi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pada konsep fotosintesis;
3) Guru dibantu peneliti, mempersiapkan alat peraga dan sarana penunjang pembelajaran lainnya yang dibutuhkan.
b) Tindakan
Pada tahap tindakan, guru melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah disusun pada tahap perencanaan.
1) Guru mempraktekan kegiatan pembelajaran dengan berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran hasil perbaikan pada konsep fotosintesis;
2) Peneliti mengamati dengan cermat kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pedoman observasi;
3) Peneliti mengadakan wawancara dengan guru dan salah seorang siswa sebagai perwakilan siswa tentang proses pembelajaran dengan menggunakan metode pemecahan masalah; dan
4) Peneliti dan guru memeriksa dan menginterpretasikan data hasil belajar siswa.
Pada tahap tindakan, guru melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah disusun pada tahap perencanaan.
1) Guru mempraktekan kegiatan pembelajaran dengan berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran hasil perbaikan pada konsep fotosintesis;
2) Peneliti mengamati dengan cermat kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pedoman observasi;
3) Peneliti mengadakan wawancara dengan guru dan salah seorang siswa sebagai perwakilan siswa tentang proses pembelajaran dengan menggunakan metode pemecahan masalah; dan
4) Peneliti dan guru memeriksa dan menginterpretasikan data hasil belajar siswa.
c) Observasi
Pada tahap observasi, peneliti mengamati aktivitas belajar mengajar siswa dan guru dengan mencatat hal-hal yang belum dilaksanakan guru. Hal-hal yang belum dilaksanakan guru dan siswa pada siklus kedua akan dijadikan bahan refleksi untuk perbaikan pada siklus ketiga.
d) Refleksi
Peneliti dan guru mengadakan diskusi mengenai proses pembelajaran yang telah dilaksanakan dan membicarakan kelemahan dan kekurangan yang ditemukan pada pembelajaran siklus kedua. Peneliti dan guru mengevaluasi temuan-temuan yang dihasilkan melalui observasi yang berkaitan dengan aktivitas guru dan siswa.
2.1 Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan pada siklus II diambil berdasarkan dari hasil nilai rata-rata siswa yang didapat pada siklus I yaitu antara 70-80%
E. Instrumen Penelitian
Suharsimi Arikunto (1999: 173) mengemukakan bahwa “instrumen adalah alat pada waktu peneliti menggunakan metode”. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan instrumen tes, observasi, dan dokumentasi. Instrumen penelitian yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik dalam mengumpulkan data, adapun teknik tersebut adalah:
1. Test
Test dalam penelitian ini adalah test tertulis obyektif dengan bentuk soal isian yang diberikan untuk mengetahui tingkat daya serap siswa terhadap materi pembelajaran pada konsep fotosintesis. Dari hasil tes akan diperoleh data yang valid tentang kemampuan siswa dalam memahami konsep pembelajaran fotosintesis dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA. Kriteria penilaian yang digunakan adalah setiap soal mempunyai bobot nilai dua jika siswa menjawab benar dan kosong jika siswa tidak dapat menjawab soal dengan benar. Jumlah soal 10 buah masing-masing soal mempunyai skor 1, jadi total skor 10.
2. Observasi
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengamati secara seksama setiap aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran IPA. Kegiatan observasi ini dilakukan secara langsung terhadap objek dan subjek penelitian untuk mendapatkan gambaran yang nyata tentang aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan.
Observasi pada siswa dilakukan untuk mengetahui motivasi dan aktivitas siswa dalam pembelajaran fotosintesis dengan menggunakan pendekatan problem solving.
Kriteria penilaian yang digunakan adalah jika anak menjawab aktif maka nilainya 1 dan jika menjawab tidak aktif mendapat nilai 0. Total skor ideal atau nilai yang diperoleh adalah 10.
3. Dokumentasi
Dokumentasi pada pelaksanaannya adalah mendokumentasikan kegiatan pembelajaran melalui foto kegiatan. Untuk itu, dalam penelitian ini penulis menggunakan kamera foto untuk mendokumentasikan kegiatan yang berlangsung. Foto kegiatan pembelajaran akan memperlihatkan secara visual aktivitas siswa pada saat pembelajaran IPA berlangsung dalam konsep fotosintesis dengan menggunakan pendekatan problem solving.
Pada tahap observasi, peneliti mengamati aktivitas belajar mengajar siswa dan guru dengan mencatat hal-hal yang belum dilaksanakan guru. Hal-hal yang belum dilaksanakan guru dan siswa pada siklus kedua akan dijadikan bahan refleksi untuk perbaikan pada siklus ketiga.
d) Refleksi
Peneliti dan guru mengadakan diskusi mengenai proses pembelajaran yang telah dilaksanakan dan membicarakan kelemahan dan kekurangan yang ditemukan pada pembelajaran siklus kedua. Peneliti dan guru mengevaluasi temuan-temuan yang dihasilkan melalui observasi yang berkaitan dengan aktivitas guru dan siswa.
2.1 Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan pada siklus II diambil berdasarkan dari hasil nilai rata-rata siswa yang didapat pada siklus I yaitu antara 70-80%
E. Instrumen Penelitian
Suharsimi Arikunto (1999: 173) mengemukakan bahwa “instrumen adalah alat pada waktu peneliti menggunakan metode”. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan instrumen tes, observasi, dan dokumentasi. Instrumen penelitian yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik dalam mengumpulkan data, adapun teknik tersebut adalah:
1. Test
Test dalam penelitian ini adalah test tertulis obyektif dengan bentuk soal isian yang diberikan untuk mengetahui tingkat daya serap siswa terhadap materi pembelajaran pada konsep fotosintesis. Dari hasil tes akan diperoleh data yang valid tentang kemampuan siswa dalam memahami konsep pembelajaran fotosintesis dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA. Kriteria penilaian yang digunakan adalah setiap soal mempunyai bobot nilai dua jika siswa menjawab benar dan kosong jika siswa tidak dapat menjawab soal dengan benar. Jumlah soal 10 buah masing-masing soal mempunyai skor 1, jadi total skor 10.
2. Observasi
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengamati secara seksama setiap aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran IPA. Kegiatan observasi ini dilakukan secara langsung terhadap objek dan subjek penelitian untuk mendapatkan gambaran yang nyata tentang aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan.
Observasi pada siswa dilakukan untuk mengetahui motivasi dan aktivitas siswa dalam pembelajaran fotosintesis dengan menggunakan pendekatan problem solving.
Kriteria penilaian yang digunakan adalah jika anak menjawab aktif maka nilainya 1 dan jika menjawab tidak aktif mendapat nilai 0. Total skor ideal atau nilai yang diperoleh adalah 10.
3. Dokumentasi
Dokumentasi pada pelaksanaannya adalah mendokumentasikan kegiatan pembelajaran melalui foto kegiatan. Untuk itu, dalam penelitian ini penulis menggunakan kamera foto untuk mendokumentasikan kegiatan yang berlangsung. Foto kegiatan pembelajaran akan memperlihatkan secara visual aktivitas siswa pada saat pembelajaran IPA berlangsung dalam konsep fotosintesis dengan menggunakan pendekatan problem solving.
F. Cara Pengambilan Keputusan
Langkah awal yang dilakukan setelah data terkumpul adalah melakukan editing, yang artinya data perlu dibaca kembali untuk melihat dan memperbaiki kualitas data yang diperoleh. Sebenarnya maksud diadakannya editing adalah untuk melihat apakah data tersebut bersifat konsisten atau tidak.
Data yang telah terkumpul menjadi acuan dalam melakukan analisis dan verifikasi data yang diperoleh selama kegiatan penelitian berlangsung. Data yang telah terkumpul kemudian diseleksi, dikelompokkan dan divalidasi.
Data yang telah diseleksi dan dikelompokkan selanjutnya dimodifikasi sesuai dengan model yang dikembangkan. Penelitian yang penulis lakukan ditujukan pada aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran. Sehingga, data yang dikumpulkan merupakan data dari perilaku peserta didik dan guru dalam pembelajaran, yaitu meliputi tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA dalam pembelajaran konsep fotosintesis dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah.
Secara garis besar pengolahan data dalam penelitian ini mencakup tiga tahap, yaitu tahap persiapan, pentabulasian dan penerapan data. Tahap persiapan meliputi; (1) mengecek kelengkapan data dan alat pengumpul data; (2) membuat persentase (%) keberhasilan pembelajaran. Tahap pentabulasian data, meliputi (1) penilaian terhadap kegiatan yang dilakukan siswa dan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evalusai pembelajaran; (2) pemberian skor atau nilai terhadap hasil tes IPA pada konsep fotosintesis. Skor nilai yang diperoleh siswa kemudian dikumpulkan dan dirata-ratakan pada setiap siklusnya; dan (3) menjumlahkan nilai hasil belajar siswa untuk menentukan prosesntase keberhasilan pembelajaran. Tahap Penerapan data, pada tahap ini peneliti berupaya menafsirkan hasil penelitian sesuai dengan hipotesis tindakan yang diajukan. Pada tahap penerapan data ini, benar atau tidaknya hipotesis yang diajukan dapat diketahui; hipotesis diterima atau ditolak. Maka dengan demikian, peneliti dapat menentukan kesimpulan akhir dari penelitian yang dilakukan terhadap seluruh rangkaian pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Langkah awal yang dilakukan setelah data terkumpul adalah melakukan editing, yang artinya data perlu dibaca kembali untuk melihat dan memperbaiki kualitas data yang diperoleh. Sebenarnya maksud diadakannya editing adalah untuk melihat apakah data tersebut bersifat konsisten atau tidak.
Data yang telah terkumpul menjadi acuan dalam melakukan analisis dan verifikasi data yang diperoleh selama kegiatan penelitian berlangsung. Data yang telah terkumpul kemudian diseleksi, dikelompokkan dan divalidasi.
Data yang telah diseleksi dan dikelompokkan selanjutnya dimodifikasi sesuai dengan model yang dikembangkan. Penelitian yang penulis lakukan ditujukan pada aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran. Sehingga, data yang dikumpulkan merupakan data dari perilaku peserta didik dan guru dalam pembelajaran, yaitu meliputi tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA dalam pembelajaran konsep fotosintesis dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah.
Secara garis besar pengolahan data dalam penelitian ini mencakup tiga tahap, yaitu tahap persiapan, pentabulasian dan penerapan data. Tahap persiapan meliputi; (1) mengecek kelengkapan data dan alat pengumpul data; (2) membuat persentase (%) keberhasilan pembelajaran. Tahap pentabulasian data, meliputi (1) penilaian terhadap kegiatan yang dilakukan siswa dan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evalusai pembelajaran; (2) pemberian skor atau nilai terhadap hasil tes IPA pada konsep fotosintesis. Skor nilai yang diperoleh siswa kemudian dikumpulkan dan dirata-ratakan pada setiap siklusnya; dan (3) menjumlahkan nilai hasil belajar siswa untuk menentukan prosesntase keberhasilan pembelajaran. Tahap Penerapan data, pada tahap ini peneliti berupaya menafsirkan hasil penelitian sesuai dengan hipotesis tindakan yang diajukan. Pada tahap penerapan data ini, benar atau tidaknya hipotesis yang diajukan dapat diketahui; hipotesis diterima atau ditolak. Maka dengan demikian, peneliti dapat menentukan kesimpulan akhir dari penelitian yang dilakukan terhadap seluruh rangkaian pembelajaran yang telah dilaksanakan.
